Kembali ke Beranda

Menjemput Kembali Era Keemasan Islam Melalui Manhaj Tarjih Muhammadiyah

05 Februari 2026
70 views
Admin
Menjemput Kembali Era Keemasan Islam Melalui Manhaj Tarjih Muhammadiyah

prmtaraibangun.or.id – Kejayaan peradaban Islam di masa lalu, yang sering dikenal sebagai The Golden Age of Muslim History, bukanlah sekadar sejarah yang harus dikenang, melainkan sebuah visi masa depan yang harus diraih kembali. Upaya untuk mengembalikan peradaban utama ini terletak pada pemahaman keislaman yang otentik dan utuh, sebagaimana yang tertuang dalam Manhaj Tarjih Muhammadiyah.

Hal tersebut menjadi pesan penting yang disampaikan oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Kiai Saad Ibrahim, dalam acara Pelatihan Kader Tarjih Nasional Bagian Barat sekaligus Tabligh Akbar Milad ke-113 Muhammadiyah di Gedung PWM Sumatera Selatan, Rabu malam (4/12).

Menurut Kiai Saad, Muhammadiyah memandang Islam sebagai agama yang kaffah (menyeluruh), yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia dari lahir hingga wafat. Namun, kesempurnaan ajaran ini memerlukan agen-agen perubahan untuk membumikannya di tengah masyarakat.

Oleh karena itu, forum-forum keilmuan seperti pelatihan kader tarjih memegang peranan vital. Harapannya, para kader yang lahir dari rahim perkaderan ini mampu menjadi penyebar nilai-nilai Islam yang murni, sekaligus memberikan solusi atas berbagai problematika yang dihadapi umat manusia saat ini.

"Pemahaman Islam di Muhammadiyah begitu sempurna dan otentik. Dengan pelatihan ini, kita berharap lahir ulama-ulama Tarjih yang tidak hanya paham agama, tetapi juga mampu memajukan kehidupan," tegas Kiai Saad.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa penerapan Manhaj Tarjih dalam memahami Islam adalah strategi untuk menjadikan umat Islam lebih unggul (khaira ummah). Kemajuan yang dibangun di atas fondasi Islam ini memiliki sifat universal; manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh kaum muslimin, tetapi juga menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Kiai Saad juga menyoroti fenomena kemajuan peradaban Barat saat ini. Ia mengingatkan bahwa tak bisa dipungkiri, kemajuan sains dan teknologi yang dicapai Barat memiliki "utang budi" pada peradaban Islam masa lalu. Sayangnya, Barat mengadopsi sisi keilmuan tersebut namun melepaskannya dari nilai-nilai teologis (ketuhanan).

Akibatnya, kemajuan yang terjadi sering kali menimbulkan kerapuhan akhlak dan gaya hidup yang lepas kendali. Ilmu tanpa bingkai iman, menurut Kiai Saad, berpotensi melahirkan kepongahan, di mana manusia merasa menjadi pusat segalanya dan menyalahgunakan pengetahuan untuk menindas bangsa lain.

Di sinilah peran Manhaj Tarjih Muhammadiyah, yakni menyatukan kembali kemajuan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai ketuhanan, demi terwujudnya peradaban yang tidak hanya maju secara materi, tetapi juga luhur secara rohani.